MUSIK GLUNDENG KESENIAN ASLI WONOSUKO

   

      Musik adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama dari suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan irama. Musik adalah hal kecil yang secara tidak langsung tidak dapat di pisahkan dari kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Musik memiliki banyak macam dan jenis, salah satunya adalah musik tradisional. Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, dipertahankan sebagai sarana hiburan. Sayangnya, minat masyarakat millenial terhadap musik tradisional kian hari kian menipis. Masyarakat lebih gemar menikmati lagu-lagu modern yang lebih kekinian dan mengikuti jaman. Padahal, negeri kita yang terkenal dengan keanekaragaman bangsa di mata dunia tentu juga memiliki aneka ragam musik tradisional.

       Namun hal itu tidak kita temukan pada masyarakat Desa Wonosuko, khususnya di Dusun Lumbung. Masyarakat sekitar memiliki kesenian musik tradisional yang dikenal dengan nama Glundeng . Glundeng merupakan seperangkat alat musik yang terbuat dari kayu, yang terdiri dari tujuh wilahan kayu dan body (rancak) kayu. Kayu yang digunakan dalam pembuatan alat musik Glundeng adalah kayu jati yang usianya sudah tua dan kering serta berwarna merah, sehingga bisa menghasilkan suara yang bagus. Untuk rancak atau tempat wilahannya bisa dibuat dengan menggunakan kayu apa saja, karena hanya berfungsi untuk menopang wilahan. Setiap rancak Glundeng berisi tujuh wilahan yang bernada laras slendro dan ditambah alat musik lainnya, seperti jidor, dug-dug (kentongan), dan suling.

      Glundeng telah ada sejak tahun 1930-an dan dilestarikan secara turun-temurun sebagai bentuk wujud pelestarian musik tradisional Glundeng. Musik Glundeng merupakan  musik hiburan rakyat yang asal mulanya digunakan untuk acara pelepasan burung merpati, orang Madura biasa menyebutnya dengan lebburan atau totta’an. Burung merpati dilepas dari sangkarnya (bekupon) atau dalam bahasa Madura rumah merpati disebut pejudun sebanyak 10-20 ekor merpati, kemudian dilepas bersama-sama dengan tanda kentongan dan musik Glundeng ini langsung ditabuh untuk memberikan semangat serta hiburan kepada masyarakat.

      Teknik permainan pada musik Glundeng hampir sama dengan teknik pukulan pada permainan seperangkat gamelan ageng di Jawa, yang terdiri dari teknik cara memukul balungan, bonang, kethuk, kenong dan lain-lain. Nama-nama alat musik pada Glundeng sama dengan Gamelan Ageng seperti demung, saron, peking, jidor, dug-dug (kenthongan), dan suling. Masing-masing alat tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri, misalnya jidor dan dug-dug (kenthongan) sebagai alat ritmis, sedangkan demung, saron dan suling sebagai melodis. Sehingga alat musik Glundeng tersebut bisa menghasilkan komposisi musik yang harmonis.

      Sampai saat ini, Glundeng tidak hanya dapat di saksikan dalam acara pelepasan merpati tetapi juga pada acara-acara hiburan lain. Lagu-lagu yang di mainkan pun mulai mengikuti lagu-lagu yang sedang hitz saat ini sehingga terdengar akrab di telinga pendengar muda. Menurut penuturan bapak Sardjo, inovasi-inovasi demikian memang diperlukan dalam rangka mempertahankan kesenian tradisional sehingga generasi muda juga punya rasa memiliki dan keinginan untuk melindungi. Selain dengan menyesuaikan lagu-lagu terkini, bapak Sardjo menuturkan bahwa dengan cara latihan berkeliling diharapkan dapat menarik perhatian warga agar turut berperan dalam menjaga musik tradisional khas Desa Wonosuko ini. Cara latihan yang dipilih oleh kelompok kesenian ini memang terbilang unik. Bukan berpusat pada satu sanggar, tetapi mereka lebih memilih latihan keliling bergiliran ke rumah tiap-tiap anggota kelompok musiknya. Tak heran jika terkadang selepas isya kita dapat mendengarkan alunan musik Glundeng di kejauhan.

 

Data ini dihimpun oleh mahasiswa KKN kelompok 212 Universitas Jember (https://unej.ac.id/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas